





 |
NEWS
KOKA – MAXINDO
Berhasil Mengelola Tujuh Perusahan
Bentuk
kebersamaan yang disebut koperasi, sudah lama kita dengar.
Koperasi merupakan ikatan, agar anggotanya bisa memperoleh
kebutuhannya secara mudah. Banyak sekali bentuk koperasi; ada
koperasi simpan pinjam, koperasi primer, koperasi serba usaha dsb.
Intinya, koperasi adalah dari kita untuk kita. Koperasi yang
didirikan pada 16 September 2004 (akte notaris) oleh karyawan
perusahaan PT Mandala Buana Ekspresindo (Maxindo), Koka Maxindo
berkembang cukup pesat dengan 7 unit usaha yang mengelolanya.
Menurut penjelasan pengurus Koka Maxindo Siti Nurhaeniah, Adi
Amran, Rahmat, Dedi Sudrajat dan Adang Gadadhi selaku
ketua badan pengawas kepada Majalah UKM, PT Maxindo adalah sebuah
perusahaan swasta yang berdiri tahun 1998.
Di
era globalisasi dimana persaingan industri semakin kompetitif,
memicu laju pertumbuhan industry. Secara brilian kebutuhan ini
direspon PT Maxindo dan direalisasikan melalui jalur bisnisnya,
antara lain, bidang cargo, ground handling,
dan outsourcing.
Divisi cargo melayani jasa pengiriman barang, baik udara, laut dan
darat untuk domestik dan internasional. Divisi ground handling
secara professional menangani penumpang pesawat, bagasi, cargo dan
hal lain yang berhubungan dengan keberadaan pesawat selama di darat.
Adapun divisi outsourcing merupakan hasil pemikiran mendalam yang
mengetengahkan faktor SDM. Karena disadari sangat berperan dari sisi
keahlian dan produktifitas, juga merupakan asset, maka ditawarkan
kepada perusahaan-perusahaan sebuah solusi bidang jasa, untuk
penempatan dan pengelolaan tenaga kerja, suatu pengalihan pekerjaan.
Dalam perkembangannya, Maxindo menunjukkan sebagai perusahaan yang
patut diperhitungkan. Terbukti telah membuka kantor cabang di
beberapa daerah, yakni di bandara-bandara yang berkaitan dengan
ketiga bidang usaha Maxindo. Seperti di Bandara Soekarno-Hatta
Jakarta, Adi Sucipto Jogyakarta, Juanda Surabaya, Hassanudin
Makassar, Ngurah Rai Bali, Adisumarmo Solo, Sam Ratulangi Manado,
Polonia Medan, Sultan Thaha Jambi, Sepinggan Balikpapan dsb.
Beberapa perusahaan penerbangan yang menjadi rekannya, yakni Bali
Air, Pelita Air Service, Sriwijaya Air, Mandala Airlines, Air Asia,
Indonesia Air Asia, Kartika Airlines, Charter (Transwisata, Pos
Express), Batavia Air, Tri MG (Cargo Flight) dll.
Pembentukan Koka Maxindo dilatarbelakangi kondisi ekonomi dalam
negeri yang tidak stabil. Maraknya aksi demo,
mogok kerja atau tuntutan lain dari tenaga kerja menghambat
aktifitas produksi, yang akibatnya berpengaruh pada kelancaran
aktifitas produksi dan mobilitas. Untuk memberikan sumbangsih dan
membantu pemerintah, beberapa karyawan Maxindo terinspirasi untuk
mencari solusi agar dapat mensejahterakan seluruh karyawan. Akhirnya
dibentuklah Koka Maxindo.
Awalnya, Koka Maxindo dibentuk hanya sekedar untuk memenuhi
kebutuhan karyawan. Namun setelah terjadi hibah 100% dari pemiliknya,
kini PT Maxindo dimiliki Koka Maxindo. Dengan diberikannya saham
tersebut, pengurus koperasi merasa bertanggung jawab untuk mengelola
dan mengembangkannya. Pada tanggal 7 Mei 2008 Koka Maxindo
melaksanakan rapat anggota tahunan (RAT) tahun buku 2007 yang
diikuti oleh seluruh anggota dan pengurus.
Acara tersebut juga dihadiri pejabat dari kementerian Koperasi & UKM
dan para peninjau. Agenda hari itu juga melaksanakan pemilihan
pengurus koperasi periode 2007-2010.
Adapun
susunan lengkap kepengurusan baru itu adalah; Ketua Umum Siti
Nurhaeniah, Ketua I Kridho Wirasto, Sekretaris Adi Amran, Sekretaris
I Noviyanti, Bendahara Rahmat dan Bendahara I Yoyoh Maesaroh. Badan
Pengawas, Adang Gadadhi (ketua), Dedi Sohih Supriadi, Wahyu Nugraha,
Indra Nusantara, Heri Susanto, Liliek Setyo Basuki dan dedi Sudrajat
(legal). RAT juga menghasilkan beberapa keputusan, termasuk rencana
pengembangan usaha sesuai perkembangan jaman.
Dengan program yang tersusun, antara lain; simpan pinjam, usaha
primer dan sekunder. Juga menjalin kerjasama dengan instansi lain,
baik koperasi maupun non koperasi untuk saling menunjang, agar ruang
gerak usaha semakin luas, untuk mensejahterakan 1250 anggota yang
tersebar di 11 distrik, yakni Jakarta, Menado, Surabaya, Solo,
Yogyakarta, Bali, Medan, Banjarmasin, Makassar, Balikpapan dan
Jambi. Bidang usaha Koka Maxindo yaitu cargo, ground handling,
ticketing, outsourcing dan maxindo tech, semua terkait dengan
konspirasi usaha koperasi.
Karena semua cabang koperasi di bandara mendukung kebutuhan tersebut,
banyak perusahaan penerbangan menjadi rekanan. Ada beberapa
perusahaan penerbangan yang sudah memenuhi kebutuhannya sendiri. Ini
tentu sedikit mengurangi aktifitas Koka Maxindo.
Karena para pengurus terus berpikir keras untuk inovasi usaha, maka
lahirlah satu bidang usaha baru, yaitu
menyelenggarakan pendidikan, Maxindo Technology. Secara struktur
perusahaan yang bernaung di bawah Koka Maxindo ada PT Maxindo Cargo
Ekspresindo dan PT Maxindo Hutama Raya Perkasa.
Menurut salah seorang pengurus, usaha Koka Maxindo yang paling
menyentuh karyawan adalah simpan pinjam dan usaha yang berkaitan
dengan SDM outsourcing. Karena suatu perusahaan telah mengalihkan
beban administrasi pengelolaan tenaga kerja kepada koperasi,
sehingga mengurangi beban kerja dan resiko perusahaan, lebih
menguntungkan dan tidak menyalahi aturan serta undang-undang. Bidang
pendidikan cukup potensial mengingat pesaingnya belum ada. Maxindo
Tech, diperuntukkan bagi siswa-siswi SLTA yang ingin menjadi ahli di
bidang perakitan computer. Pengembangannya kearah pembelajaran sains
untuk anak usia dini, dengan sasaran murid-murid SD.
Bidang
ground handling ada rencana kerjasama dengan Saudi Arabia Airlines.
Juga ada rencana mengoperasikan kendaraan dengan sopir wanita dan
membuat even organizer sekolah.
Ketua Dewan Pembina Adang Gadadhi mengatakan: “Bisnis berdasarakan
teori, orang selalu mengatakan harus ada modal, memilliki SDM dan
pasti ada pesaing. Secara nyata iklim usaha di Indonesia cenderung
lebih menekankan kepada sumber daya modal, sedangkan SDM digunakan
hanya sebagai alat.”
Menurut konsep yang benar, manusia merupakan sumber daya utama. Jadi
yang benar, bagaimana mengelola SDM, bukan bagaimana mengelola
modal. Yang terjadi saat ini salah penerapan. Banyak pemimpin
memberikan contoh secara terbalik, memanipulasi dan merekayasa
manusia. Akibatnya terjadi krisis kepecayaan dari masyarakat kepada
pimpinannya.
Krisis kepercayaan ini menjadi tantangan bagi dunia koperasi. Apa
benar kita punya kepentingan bersama, apa benar bisa sejahtera, apa
benar investasi akan dikelola dengan baik dan SHU akan kembali pada
anggota? Pertanyaan itu harus dijawab dan jawabannya harus
proporsional. Memimpin bukan dengan teori, tetapi dengan hati.
Sekecil apapun bisnis yang ada, harus ditangani dengan baik. Jangan
melihat ketika mendapat proyek saja. Bermula
dari yang baik-baik dan beri contoh baik. Sebagai pemimpin harus
bekerja lebih maksimal saling bantu. Karena pada dasarnya manusia
mencari eksistensi atau pengakuan terhadap dirinya. Berikan wadah
agar mereka bisa berkiprah, berikan keleluasaan, support dan
motivasi dalam kreatifitas untuk mewujudkan eksistensi.
“Sebenarnya rakyat Indonesia tidak layak susah, karena memiliki
sumber daya alam yang melimpah, lebih besar dari Jepang, Taiwan atau
Korea. Tetapi karena ada sesuatu yang salah, rakyat jadi susah. Saya
selalu menekankan kepada rekan-rekan di Maxindo, bahwa semua punya
kesempatan yang sama, bisa jadi manajer atau direktur asal mau, bisa
kita wujudkan disini.” Kata Adang.
Menurutnya
koperasi itu sangat cocok dengan pola hidup di Indonesia, jangan
melihat besar kecilnya modal, tapi ajak mereka dan beri kesempatan,
pasti berhasil. (JW/.Yuni)
Dikutib dari majalah (UKM)
|






 |